Dalam setiap detik kehidupan kita dihadapkan pada banyak pilihan, namun kita harus memilih satu dari sekian banyak pilihan yang ada. Saya menawarkan dua pilihan untuk menjalani kehidupan. Pilihan  yang pertama yakni menjalani kehidupan seolah-olah tidak ada keajaiban. Cara ini membuat kita meyakini bahwa semua hal yang terjadi dalam hidup kita adalah hal biasa, kita tak peduli darimana dan akan kemana hidup ini  berjalan. Kita  merasa bahwa semua yang kita  punya tidak ada apa-apanya, kita  selalu membandingkan hidup kita  dengan kehidupan orang lain, hidup hanya berisi keluhan setiap hari yang tanpa kita sadari keluhan itu akhirnya menambah beban yang harus kita panggul setiap hari, ya…… kita  tak mampu bersyukur dan hanya mengenakan kacamata negatif memandang semua sisi dalam kehidupan kita  dan pada akhirnya cara ini akan membuat kita kehilangan pengharapan untuk terus berjuang mengarungi kehidupan.

Pilihan kedua yakni menjalani kehidupan seolah-olah semuanya adalah keajaiban. Cara ini membuat kita meyakini bahwa hidup adalah sebuah keajaiban yang harus disyukuri. Hidup adalah keajaiban indah yang harus dijalani. Keajaiban-keajaiban kecil dalam hidup yang membuat kita semakin mampu bersyukur dan mendekat pada-Nya Sang Pemberi keajaiban.  Sebuah keajaiban saat kita masih bisa menghirup udara segar di pagi hari. Sebuah keajaiban saat kita mampu bertahan hingga saat ini, detik ini meski harus melewati banyak hal yang kadang tak mampu kita pahami, namun harus kita terima, penerimaan yang membahagiakan. Sebuah keajaiban saat kita mendapat pertolongan ketika kita sungguh membutuhkannya. Sebuah keajaiban saat kita mampu menerima suatu hari yang pahit karena keyakinan bahwa akan ada hari esok yang lebih baik yang datang bersama matahari terbit. Sebuah keajaiban saat kita mampu mencintai dan dicintai. Sebuah keajaiban saat kita masih mampu tersenyum meski telah disakiti. Tersenyum dan bersyukurlah karena begitu banyak keajaiban yang terjadi dalam hidupmu.

Jadi, cara mana yang akan saya pilih? Tersenyumlah dan jangan lupa untuk bahagia….. (By. Sr. M. Raymunda Malau FCJM/Junior I)

Editor:

Tim WARTA FCJM (SIM)