MENGENANG KISAH SETIA MEREKA

155
  • Lima Suster FCJM yang telah pergi untuk selamanya

Lima orang puteri Muder M. Clara Pfander yang telah pergi untuk menikmati indahnya surga abadi bersama Sang Penciptanya. Mereka telah meninggalkan persaudaraan secara fisik namun tetap satu dalam doa. Saat ini kiriman yang paling berharga dari mereka adalah doa yang tiada hentinya bagi Kongregasi FCJM yang sangat mereka cintai.

Perjuangan mereka dalam Kongregasi membuahkan kebahagiaan bagi kaum penerusnya saat ini. Banyak perjuangan yang telah mereka lalui hingga mereka setia dalam hidup panggilannya. Mungkin banyak perjuangan mereka yang hidup dalam bimbingan para Misionaris pada saat itu. Kebiasaan para Misionaris tentunya harus mereka hidupi hingga mereka terbentuk pribadi yang mandiri dan lebih bijak dalam menjalani panggilan hidup membiara. Mereka adalah pemula dari Indonesia yang masuk dalam biara FCJM. Mereka adalah perawat yang penuh cinta dalam melayani para pasien, mereka pelayanan yang sederhana namun bersahaja. Puteri Clara Pfander yang mampu menopang dan memberikan kesehatan bagi Saudarinya, dan mereka adalah pejuang kongregasi dalam beberapa peristiwa penting kongregasi hingga kini FCJM Provinsi Indonesia menuju 90 tahun di Indonesia.

  1. Perawat Bertangan Dingin ”Sr. M. Alfonsa Tinambunan FCJM”

”Aku hidup tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” adalah motto perawat yang telah menyelamatkan nyawa umat khususnya para ibu yang melahirkan. Motto ini memberi semangat dalam pelayanannya hingga mereka yang dilayani memperoleh kesembuhan.

Sr. M. Alfonsa Tinambunan FCJM

Pagi itu, hentakan kaki sudah riuh dan hampir disetiap gang biara tempat para Suster FCJM. Setiap orang saling memanggil untuk secepatnya berkumpul untuk mendengarkan tugas yang harus dikerjakan dengan cepat. Tepat pukul 05.20 WIB, Sr. M. Alfonsa Tinambunan FCJM menyambut Saudari maut dengan tenang sembari diiringi doa-doa para Suster di RS. Harapan Pematangsiantar. Peristiwa ini dengan cepat mengumpulkan para Suster.Mereka bergerak cepat melengkapi segala yang dibutuhkan untuk menyambut jenazahnya agar disemayamkan di Aula Biara Pusat “Provinsialat Monteluco”.

Kisah hidupnya mengharukan kaum muda FCJM khususnya yang sedang melayani di bagian kesehatan. Sebagai seorang perawat, Sr. Alfonsa mampu mengobati dengan penuh cinta dan menyembuhkan para pasiennya. Seakan-akan obat yang diberikannya itu lebih mahal dan lebih hebat dibanding obat yang dijual ditempat yang lain meski merk yang sama. Ternyata cinta yang tulus dan sentuhan yang memberikan kesembuhan.

Genap di usia 74 tahun ia mengakhiri semua tugas di dunia dan tepat satu hari sebelum tanggal kelahirannya. Seorang Suster yang rendah hati, mencintai orang kecil, setia dalam tugas pelayananan. Tidak pernah menolak kemana ia akan diutus, namun dengan penuh kebahagiaan menerima setiap perutusan yang baru. Mengenang kepergianmu (11 Januari 2020).

2. Peracik Bumbu Cinta Kasih ”Sr. M. Clara Simbolon FCJM”

Sr. M. Clara Simbolon FCJM

Sr. Clara Simbolon seringkali terdengar di dunia dapur para Suster FCJM. Peracik bumbu cinta kasih itulah sebutanku saat mengenangnya kembali. Sup istimewa ala FCJM itu lahir dari peracik bumbu cinta kasih. Meski bahan masakan dan bumbu masakan sama, namun tetap ada rasa yang khas dari setiap olahan tangannya. Memang ia sangatlah sederhana dan itulah yang membuatnya sangat dicinta. Masa mudanya dia habiskan untuk melayani para saudarinya dibagian rumah tangga. Ia adalah pelayan kasih yang tulus dan setia.

Pada masa menjelang usia senja, ia mulai belajar untuk perutusan yang baru untuk membantu anak-anak yatim piatu agar mendapat pembinaan dan hidup yang lebih layak. Ia pun membekali diri sebelum memulai perutusan yang baru ”Panti Pius Sinaksak”. Membekali diri dengan belajar dan meninjau panti-panti di Jawa Barat, hingga iapun berani untuk memulainya. Masa hidupnya 65 tahun dibiara meninggalkan kenangan yang manis yaitu kebaikan hatinya, kesetiaannya hingga akhir hayatnya. Meski ia angkatan pertama Suster Indonesia namun ia tetap menghargai setiap Suster. Ia pribadi mandiri meskipun dalam keluarga ia bungsu. Puteri Clara Pfander yang rendah hati dan pejuang cinta kasih.

Berdoalah dari Surga untuk kami para Saudarimu. Kami kenang kepergianmu (19 Januari 2020) dan itulah hari terakhirmu di dunia ini.

3. Bidan dan pemerhati kaum kecil ”Sr. M. Marisstella Sotorus FCJM”

Sr. M. Marisstella Sitorus FCJM

Helena Tioman Sitorus itulah nama baptisnya yang telah mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan melalui Kongregasi FCJM. Dalam biara FCJM ia memilih nama Sr. M. Marisstella Sitorus FCJM. Nama yang dia pilih untuk menyemangati hidup panggilannya.

Riwayat karya pelayanannya hampir dihabiskannya dalam dunia kesehatan. Oranglain disembuhkannya dengan doa dan fasilitas yang digunakannya. Para ibu yang melahirkan ditolongnya hingga lahir kehidupan baru bagi setiap yang dibantunya. Sebagai seorang bidan yang adalah biarawati, ia juga menabur kebaikan dihati mereka yang dilayani.

“Tegas dan disiplin adalah pribadinya yang sungguh dikenal oleh persaudaraan FCJM”.

Ditanah gambut dan rawa perkebunan sawit, kaum kecil diperjuangkannya untuk merasakan kasih Tuhan dalam hidup mereka. Meski meneruskan apa yang telah dimulai oleh para Suster FCJM di tanah gambut ini, ia tetaplah seorang pejuang “kasih” yang tulus. Masa pensiunnya ia telah melewati karya cinta ini dengan baik hingga ia dikenang seorang pemerhati hidup kaum kecil di tanah gambut.

Meski telah memasuki usia indah/senja, ia tetap berkarya dengan tulus dan penuh cinta. Hingga akhir hidupnya ia tetap menjadi pelayan kasih di bagian kesehatan dengan hadir menemani dan membantu di Apotek JECIMA milik FCJM di Jl,Asahan Pematangsiantar. Mengenangmu yang telah menjadi pendoa bagi kami. Minggu 23 Februari 2020 hari terakhirmu di dunia ini dan saat itulah engkau menyambut Saudari maut sebagai jalan menuju hidup abadi.

4. Sederhana nan tulus ikhlas “Sr. M. Willibrorda Goh FCJM”

Adriana Go Soat Seng lahir di Bagansiapiapi pada tanggal 25 desember 1933 dari ditengah pasangan “Ambrosius Go Sui An dan Maria Tan Siu Le”.

Sr. M. Willibrorda Goh FCJM sebuah nama yang terukir indah dalam persaudaraan FCJM.

Sr. M. Willibrorda Goh FCJM

Mengenangmu adalah kewajiban bagi kami Saudarimu yang merindukan lembutnya hatimu dan tulusnya hidupmu. Tak banyak kata yang keluar darimu dimasa senjamu karena keterbatasanmu untuk melihat keindahan dunia ini. Engkau tetap setia mendampingi Suster Lansia yang sakit. Sr.M.Krisanti Situmorang FCJM adalah sahabat sejatimu dalam menjalani usia indahmu yang tak dapat melihat lagi. Kalian berdua mengalami hal yang sama “tidak melihat” oleh penyakit yang membuat semua ini. Kisah dua Suster yang sama-sama berjuang untuk menyemangati dalam situasi tak melihat adalah kisah kalian berdua. Saat berjalan bersama dan saling berpegangan tangan sambil berbicara bersamanya, terlihat indahnya persaudaraan ini.(saat menulis kisah ini, tetesan air mata terasa dipipi ini).

Meski tak banyak cerita darimu kudengar, tapi sejuta kisah hidupmu telah tertulis dalam sejarah hidupmu. Saat membaca kembali semua kisah hidupmu, sungguh kuterharu dan ingin menjadi seperti pribadimu yang selalu hidup dalam kesederhaan yang bersahaja. Melayani dengan penuh ketaatan.

Masa hidupmu telah menikmati indahnya kota suci dan melayani disana “Generalat FCJM”. Album foto masa hidupmu adalah bukti sejarah yang tersimpan indah bagi kami. Semua foto itu menceritakan sebagian hidupmu yang melambangkan kasih Allah.

Sr. Willi senyummu hidup dalam persaudaraan kita dan telah bertumbuh dalam karya yang pernah menjadi bagian hidupmu “Panti Pius”. Sederhana namun indah untuk dikenang inilah kata indah yang melambangkan pribadimu.

Pandemi Covid-19 telah merubah tradisi persaudaraan kita. Salam hangat dengan berjabat tangan hilang sejenak dimasa Covid ini diganti dengan salam sehat yang saling menundukkan kepala.  Terasa asing namun nyata di tahun 2020.

Di masa perjuanganmu menahan sakit penyakitmu, kami hadir disampingmu untuk berdoa sebagaimana telah engkau lakukan bersama Sr. Krisanti “setia berdoa” disamping Suster yang sakit. Dimasa pandemi Covid-19 ini kami saudarimu meminta padamu agar sehat dan bisa melewati peristiwa ini. Namun kehendak Tuhan lah yang terjadi bahwa engkau menghadapnya dimasa sulit ini.

Sr. Willi yang setia dalam persaudaraan, telah berjuang untuk menanamkan kebaikan bagi kami hingga akhir hidupmu. Tanggal 21 April 2020, bersama Bunda Maria, kami para Saudarimu menemanimu hingga Saudari maut menjemputmu. Saat engkau menghembuskan nafas terakhirmu dihadapan persaudaraan kita, engkau menunjukkan sukacita surgawi yang menantimu. Oh indahnya hidupmu yang berakhir dalam lantunan doa.

Pandemi Covid-19 tidaklah “menakutkan” bagi kami yang mencintaimu dan kami tetap melakukan yang terbaik untuk memberikan penghormatan bagi semua cintamu. Masih banyak yang mencintaimu dan bersama dengan kami untuk membuat semuanya baik. Dibawah sinar pagi didepan kapel Hati Kudus, tubuhmu yang kaku diberkati oleh “Hati Yesus”. Semua acara menyatu dengan alam dan alam bersahabat saat itu. Sederhana namun indah untuk dikenang. Semoga doa menjadi titipanmu dari surga bagi kami saudarimu.

5. Pemimpin yang tangguh “Sr. M. Dominica Rumapea FCJM”

Kepemimpinan dalam biara bukan tujuan kaum berjubah tapi ini adalah sebuah perutusan dan tugas mulia yang dipercayakan oleh persaudaraan dan bukan pula atas keinginan sendiri.

Tahun 1978 FCJM di Indonesia masih dalam status Regio dan kepemimpinan saat itu diemban Sr. Dominica. Sebuah kesempatan baru untuk membina Suster Indonesia menuju tahap selanjutnya hingga para Misionaris meninggalkan bumi Indonesia. Sebagai pemimpin saat itu, ia bersama empat orang suster mengemban tugas mulia ini dan bersama-sama mendayung satu perahu FCJM. Buah pemikiran mereka dikembangkan dalam membangun FCJM. Gelombang dalam mengarungi samudera membentuk FCJM yang tangguh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan jaman.

Sr. Dominica Rumapea mempersembahkan hidup seutuhnya kedalam persaudaraan FCJM hingga akhir hayatnya. Ia mendukung kinerja para pimpinan dalam setiap periode pemilihan. Ia tidak menonjolkan diri meski ia bisa. Ia tidak boros meski ada peluang. Ia tidak “anti” dengan perkembangan IPTEK meski ia telah usia senja, tapi ia tetap belajar menggunakannya menjadi sarana yang membangun hidupnya. Tidak banyak cerita darinya tentang perjalanan hidupnya, ia tidak menceritakan kehebatannya tapi ia mencoba untuk selalu rendah hati. Ohhh…puteri Clara Pfander,,,engkau bijaksana dan bersahaja.

Pandemi Covid-19 sesuatu yang menakutkan dan sangat mencemaskan manusia yang tengah berjuang untuk hidup dengan sehat dan selamat. Saat itu juga engkau berjuang untuk sehat dan selamat dari penyakitmu yang telah lama engkau perjuangkan dalam hidupmu. Perjuangan hidupmu hampir sirna dimatamu, kelembutan hatimu bersinar dari senyummu meski menahan sakit dan keramahanmu kini sayu menoreh kisah sendu diakhir hidupmu.

Tanggal 28 Mei 2020 segalanya engkau akhiri dengan tulus, engkau menghembuskan nafas terakhir dengan tenang dihadapan persaudaraan kita dalam lantunan “Doa Koronka”. Engkau memberikan kesaksian nyata arti kesetiaan panggilan hidup membiara “hingga akhir hayat”. Doakan kami yang masih berjuang untuk “cinta sejati”.

Harapan dan doa kami.

Kami para Saudarimu meminta doa-doamu dan dari mereka yang telah mendahului kami. Semoga persaudaraan kita tetap mampu untuk mewartakan Injil yang membawa keselamat bagi dunia dan menjadi saksi cinta kasih serta menjadi berkat dihati dunia.

Semoga para Saudari kami yang telah “pergi” menghadap Bapa mengalami kehidupan yang abadi dan bahagialah di Surga bersama para Kudus Allah.

Sr. M. Ivoline Maharaja FCJM