Muder. M. Clara Pfaender (Pendiri Kongregasi FCJM)

Semoga para pengikutmu tetap berjuang mengikuti teladan hidupmu dan tetap berjuang menjadi berkat di hati dunia.

PEMULIHAN NAMA BAIK MUDER MARIA CLARA PFANDER PENDIRI KONGREGASI FCJM

Kehidupan Muder M. Clara Pfänder, pendiri Kongregasi Suster Fransiskan, Puteri-Puteri Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria, dipenuhi dengan banyak kesulitan dan tantangan. Dia bertahan dalam penderitaan yang sangat gelap. Iman yang mendalam menjadi fondasi hidupnya dan tekadnya yang kuat untuk menerima segala sesuatu dalam hidup sebagai Penyelenggaraan Ilahi. Komunitas kecil Muder Clara yang didirikan pada tahun 1860, segera terperangkap dalam lingkungan yang tidak bersahabat di awal tahun 1870-an ketika negara bagian Prusia mengeluarkan undang-undang yang sangat membatasi pengaruh Gereja Katolik. Kulturkampf mengusir para Yesuit ke luar dari negara dan melarang para religius pria dan wanita untuk mengajar atau mengelola panti asuhan. Dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 2018, Suster M. Carola Thomann menelusuri kehidupan Muder Clara khususnya selama masa-masa paling sulit ini. Sejak awal, Sr. Carola tertarik untuk mengembalikan nama baik Muder M. Clara Pfaender, sesuatu yang telah Muder Clara korbankan menjelang akhir hayatnya. Pembatasan Kulturkampf melarang anggota baru diterima dalam komunitas religius tanpa persetujuan sebelumnya dari Negara Prusia. Uskup Konrad Martin dari keuskupan Paderborn, Jerman, sebagai tokoh utama Gereja Katolik dan pendukung kuat Muder Clara dan komunitasnya. Dukungannya yang kuat terhadap Gereja menyebabkan dia dipenjara. Muder Clara mengunjungi uskup di penjara pada tahun 1875, ketika dia dengan cepat menulis kuasa paripurna yang memberi wewenang kepada Muder Clara untuk menerima kaul dari para Novis yang telah menyelesaikan masa pembinaannya dalam kongregasi, hak untuk menerima postulan dalam novisiat dan hak-hak lain yang seharusnya tugas seorang imam. Muder Clara merasa perlu untuk menggunakan surat rahasia ini dalam beberapa situasi untuk melindungi Moderator Gerejawi (Pastor Klein) dari kongregasi. Karena jika hal itu dilakukan oleh Moderator, akan sangat beresiko bagi keselamatan dirinya atau akan dipenjara sendiri. Pastor Klein dan para susternya sadar akan bertambahnya jumlah anggota kongregasi. Hingga satu momem tepat beberapa mereka dikirim ke Belanda atau ke Amerika Serikat. Pastor Klein menuduh dan menyatakan bahwa Muder Clara dikucilkan atau diekskomunikasi; hal ini tentu menyebabkan kebingungan bagi para susternya yang mengikuti pernyataan Muder Clara untuk berdoa bagi Gereja yang dianiaya, salah satu pilar komunitasnya yang baru dibentuk. Muder Clara, yang telah berjanji untuk merahasiakan surat dari Uskup Martin pada, akhirnya diusir dari Kongregasi yang ia dirikan. Dia disalah mengerti dan tidak dipercaya oleh hierarki Gereja di Paderborn, dia diasingkan dari putri-putri yang dia cintai. Dia pergi ke Roma, Italia. Di sana, selama dua tahun, dia berusaha untuk mengklarifikasi situasinya dan kembali ke pelayanan cinta yang merupakan hidupnya, tetapi diblokir di segala bidang. Karena hanya menerima 2 pembayaran awal dari uang yang dijanjikan oleh Pastor Klein, Ibu Clara segera jatuh sakit. Dia meninggal karena difteri pada tanggal 5 Oktober 1882. Para suster dari seluruh kongregasi menderita karena kehilangan pendirinya dan cahaya penuntun mereka, meskipun itu sangat menyakitkan bagi para suster di Jerman. Mereka bahkan dilarang menyebut namanya atau menunjukkan foto pendiri yang sangat mereka cintai. Gereja menempatkan Suster-Susternya dalam posisi yang sangat sulit, memilih antara Muder Clara atau Gereja. Surat kuasa rahasia yang asli dari Uskup Martin ditemukan pada tahun 1977 dalam sebuah arsip di Roma, hampir seabad setelah kematian Muder Clara. Suster M. Carola Thomann mendedikasikan waktu bertahun-tahun untuk penelitian yang cermat dalam arsip di Roma, Jerman, dan Vatikan untuk mengumpulkan dan mengungkap fakta sebenarnya dari kehidupan dan tindakan Muder Clara serta para Imam yang mengelilinginya. Sr. Carola dibantu oleh seorang ahli Kitab Hukum Kanonik, Mgr. Ruediger Althaus, seorang profesor di Fakultas Teologi di Paderborn. Suster Carola menemukan bahwa Muder Clara tidak dikucilkan seperti yang dikabarkan pada saat dia dipaksa untuk melepaskan kepemimpinannya pada tahun 1880. Biografi Suster Carola yang lengkap tentang Muder Clara, serta fakta tak terbantahkan yang dia temukan, membuktikan bahwa Muder Clara bertindak dalam otoritas yang dengannya dia dipercayakan oleh Uskup Martin. Pada tanggal 18 Februari 2018, pada Misa khusus yang meriah di Katedral Paderborn, Uskup Agung Hans-Joseph Becker menyatakan bahwa Muder Clara telah menderita ketidakadilan yang luar biasa selama Kulturkampf di Prusia. Tuduhan terhadapnya tidak sesuai dengan fakta kehidupannya. Sebenarnya, dia hidup dengan berani dan dengan integritas yang tinggi kepada Tuhan, Gereja, dan umatnya, tidak pernah berusaha membersihkan namanya sendiri tetapi mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja antara dia dan Tuhannya. Kita merayakan Pemulihan Nama baik Muder Pendiri yang kita cintai seraya bersyukur atas semua yang dia lakukan dalam hidupnya dan untuk semua orang yang telah “mendukung dan membantu dengan cinta” dalam namanya.

Semoga kami tetap menjungjung tinggi teladan hidupmu dan tetap berjuang demi cinta kasih.